Pendidikan yang Memerdekakan dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara dan Implikasinya untuk Pendidikan SMP

  • Ahmad Muamar Zaenul Hakim Universitas Islam Nusantara, Indonesia
  • Elis Nursari Universitas Islam Nusantara, Indonesia
  • Rini Rosmiati Universitas Islam Nusantara, Indonesia
  • Ricky Yoseptry Universitas Islam Nusantara, Indonesia
Kata Kunci: ki hajar dewantara; pendidikan yang memerdekakan; pendidikan humanis; implikasi pendidikan; SMP

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia, yaitu membentuk peserta didik agar mampu berkembang sesuai kodratnya, memiliki budi pekerti, serta mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konsep pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hajar Dewantara; (2) menganalisis relevansi konsep tersebut dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21; dan (3) mengkaji implikasi pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap sistem pendidikan di SMP, baik pada aspek kurikulum, pembelajaran, manajemen sekolah, maupun budaya satuan pendidikan. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data meliputi karya asli Ki Hajar Dewantara, kajian akademik tentang pendidikan karakter dan pendidikan humanistik, serta dokumen kebijakan pendidikan nasional seperti Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Data dianalisis melalui teknik reduksi data, kategorisasi, interpretasi, serta penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan yang memerdekakan menurut Ki Hajar Dewantara menekankan tiga prinsip utama: (1) keteladanan (ing ngarso sung tulodo), (2) pemberdayaan dan motivasi (ing madya mangun karso), dan (3) dorongan kemandirian (tut wuri handayani). Ketiga prinsip tersebut memiliki implikasi yang kuat bagi sistem pendidikan di SMP. Pada aspek kurikulum, diperlukan penguatan fleksibilitas, diferensiasi pembelajaran, dan pengembangan karakter. Pada aspek pembelajaran, guru perlu berperan sebagai pamong yang membimbing peserta didik melalui pendekatan dialogis, reflektif, dan berbasis pengalaman. Pada aspek manajemen sekolah, diperlukan budaya sekolah yang demokratis, partisipatif, serta menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan pendidikan yang memerdekakan di SMP dapat memperkuat ekosistem pendidikan yang humanis dan relevan dengan tuntutan perkembangan peserta didik.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Ananda, R., & Fadhli, M. (2019). Pengantar kurikulum. Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia.

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE.

Dewantara, K. H. (2004a). Bagian I: Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Dewantara, K. H. (2004b). Bagian II: Kebudayaan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Dewantara, K. H. (2004c). Bagian III: Politik. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Djojonegoro, W. (1994). Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran dan perjuangannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hasan, H. (2018). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 8(2), 123–135.

Hidayat, R. (2020). Pembelajaran partisipatif untuk meningkatkan kemandirian siswa SMP. Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah, 7(2), 77–88.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Profil Pelajar Pancasila. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka: Panduan pembelajaran dan asesmen. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Nuh, M. (2013). Merdeka belajar: Pendidikan yang memerdekakan. Gramedia.

Roem, M. (2017). Pendidikan humanistik dalam konteks Indonesia. Jurnal Pendidikan Islam, 12(1), 11–25.

Sanjaya, W. (2016). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Kencana.

Sudarminta, J. (2013). Humanisme pendidikan Ki Hajar Dewantara. Jurnal Pendidikan Nasional, 2(4), 221–230.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta.

Sutarjo, A. (2016). Sistem among dalam perspektif pendidikan modern. Jurnal Filsafat Indonesia, 5(1), 45–56.

Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan sosial dan pendidikan. Grasindo.

Uno, H. (2019). Model pembelajaran untuk meningkatkan berpikir dan karakter. Bumi Aksara.

Wijaya, A., & Syahrul, M. (2022). Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Pengembangan Pembelajaran, 10(1), 55–68.

Diterbitkan
2026-01-21
Bagian
Articles